Leadership is influence, begitu kata Maxwell. Nothing more nothing less. Tidak lebih tidak kurang, lanjutnya. Atas dasar itu lah kemudian ia menyimpulkan bahwa pemimpin bisa berada di mana saja. Ia tidak terikat dengan kedudukan atau posisi atau jabatan.

Leader atau pemimpin bisa berada di mana saja. Tidak selalu berada di depan. Atau di atas. Posisinya ibarat berada dalam sebuah lingkaran, yaitu 360 derajat.
Mitos yang umum dipercayai tentang kepemimpinan adalah, “Kalau saya tidak memiliki sebuah tim,
maka saya tidak bisa memimpin.” Tetapi sebenarnya Anda bisa, dan harus memimpin. Di awal karir Anda, sebelum Anda bertugas mengawasi orang lain, adalah waktu yang tepat untuk Anda mulai mengasah dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan Anda.
Anda harus belajar memimpin terlebih dahulu sebelum Anda bisa mendapatkan jabatan eksekutif dalam hierarki perusahaan Anda. Pada saat itulah Anda akan bisa benar-benar memahami cara menginspirasi dan mempengaruhi orang lain.
Menjadi pemimpin yang hebat tidak akan terjadi dalam semalam. Hal ini merupakan kemampuan yang harus dikembangkan terus-menerus. Pengaruh Anda lebih besar dari yang Anda sadari, dan dengan menjadi seorang 360-degree leader, Anda dapat memberikan dampak yang membekas pada setiap orang yang Anda temui.

Kedudukan memang bisa membuat seorang pemimpin mendapatkan pengaruhnya. Tapi tanpa kedudukan, ia tetap bisa memberikan pengaruhnya pada orang lain. Begitu juga soal harta dan popularitas.
Lalu apa sumber pengaruh yang paling kuat bagi seorang pemimpin? Kouzes posner menyebut karakter sebagai sumber pengaruh yang sangat buat bagi pemimpin. Simon sinek menganggap dorongan atau keinginan yang kuat dalam diri seseorang sebagai faktor yang memberi pengaruh yang sangat kuat.
Jika 2 hal ini dimiliki, karakter atau sifat sebagai pemimpin, serta dorongan kuat yang menyala-nyala dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin, akan membuat seseorang dianggap sebagai pemimpin, di mana pun dia berada.
Maka, jika Maxwell menyebutnya dengan The 360 degree leader, Ki Hajar Dewantara mengungkapkannya dengan istilah: Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani.

